*Selamat datang di blog resmi Wida Awanda --- Selamat datang di blog resmi Wida Awanda --- Selamat datang di blog resmi Wida Awanda --- Selamat datang di blog resmi Wida Awanda --- Selamat datang di blog resmi Wida Awanda --- Selamat datang di blog resmi Wida Awanda --- Selamat datang di blog resmi Wida Awanda --- Selamat datang di blog resmi Wida Awanda --- Selamat datang di blog resmi Wida Awanda --- Selamat datang di blog resmi Wida Awanda --- Selamat datang di blog resmi Wida Awanda*
Tampilkan postingan dengan label pendidikan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label pendidikan. Tampilkan semua postingan

Tingkatkan Pendidikan Vokasional

Posted by Wida Awanda on 09.30 with No comments

Om Bob Sadino menyebutkan sistem pendidikan yang ada sekarang ini banyak menghasilkan orang-orang yang arogan yang merasa pintar, namun tidak punya keterampilan dan kompetensi melakukan tindakan yang seharusnya dilakukan untuk membuat Indonesia maju dan sejahtera.

JAKARTA, RABU- Pendidikan vokasional atau kejuruan kepada generasi muda harus diprioritaskan demi perbaikan kualitas sumber daya manusia Indonesia yang mampu mengoptimalkan kekayaan alam negara ini untuk kemakmuran masyarakat.

Untuk itu, pendidikan yang berlangsung di sekolah-sekolah mesti berubah dari yang selama ini cuma bertujuan membuat peserta didik tahu juga mengajarkan kompetensi yang memang dibutuhkan dalam kehidupan di masyarakat dan dunia kerja.

"Pendidikan di sekolah itu bukan segala-galanya sebagai faktor sukses dalam kehidupan. Perlu dipahami juga bahwa pendidikan itu jangan dimaknai secara sempit dengan belajar di sekolah saja. Ini bukan berarti kita antisekolah. Tetapi yang harus dipikirkan bersama adalah sekolah seperti apa dan bagaimana yang mampu menghasilkan orang-orang yang tahu dan bisa sehingga sistem pendidikan kita justru tidak semakin menambah jumlah pengangguran terdidik," kata pengusaha Bob Sadino di Jakarta, Rabu (27/8).

Menurut Bob yang menaruh perhatian pada pengembangan pendidikan kejuruan, spirit pendidikan yang mengajarkan pengetahuan dan keterampilan itu sudah tercermin dalam sekolah menengah kejuruan atau SMK. Pengembangan SMK tidak semata-mata berhenti menghasilkan tenaga kerja siap terampil yang memang dibutuhkan negara ini.

Dengan bekal keterampilan yang didapat dari pengalaman-pengalaman bersentuhan dengan kehidupan di luar dinding kelas kepada peserta didik, mereka nantinya harus mampu menjadi wirausahawan dan profesional yang dapat diandalkan untuk meningkatkan pertumbuhan ekonomi.

Bob menyebutkan sistem pendidikan yang ada sekarang ini banyak menghasilkan orang-orang yang arogan yang merasa pintar, namun tidak punya keterampilan dan kompetensi melakukan tindakan yang seharusnya dilakukan untuk membuat Indonesia maju dan sejahtera.

"Coba lihat, berapa banyak ahli dan sarjana pertanian di negara agraris ini yang justru jadi pengangguran. Ini karena mereka tidak bisa bagaimana mengerjakan pertanian itu karena sudah merasa cukup puas dengan teori-teori saja," kata Bob yang mendukung pengembangan kualitas pendidikan kejuruan lewat Forum Peduli Pendidikan Pelatihan Menengah Kejuruan Indonesia (FP3KI).

Seperti terungkap dalam Laporan Tren Ketenagakerjaan dan Sosial di Indonesia 2008 Organisasi Buruh Internasional (ILO), sebanyak 4.516.100 dari 9.427.600 orang yang masuk kategori pengangguran terbuka Februari 2008 adalah lulusan SMA, SMK, program diploma, dan universitas.

Sementara itu, pengembangan SMK yang dilakukan Deparetemen Pendidikan Nasional terus ditingkatkan menjadi SMK bertaraf internasional. Untuk itu, investasi yang dikeluarkan jauh lebih besar, apalagi untuk sekolah kejuruan yang membutuhkan banyak praktik.

Pasal 3 Undang-undang nomor 20 tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional menyatakan bahwa: “Pendidikan nasional berfungsi mengembangkan kemampuan dan membentuk watak serta peradaban bangsa yang bermartabat dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa, bertujuan untuk berkembangnya potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri, dan menjadi warga negara yang demokratis serta bertanggung jawab.”
Sehubungan dengan hal tersebut, salah satu program utama Kementerian Pendidikan Nasional dalam rangka meningkatkan mutu proses dan output pendidikan pada jenjang pendidikan dasar dan menengah adalah pengembangan pendidikan karakter. Sebenarnya pendidikan karakter bukan hal yang baru dalam sistem pendidikan nasional Indonesia. Pada saat ini, setidak-tidaknya sudah ada dua mata pelajaran yang diberikan untuk membina akhlak dan budi pekerti peserta didik, yaitu Pendidikan Agama dan PKn. Namun demikian, pembinaan watak melalui kedua mata pelajaran tersebut belum membuahkan hasil yang memuaskan karena beberapa hal. Pertama, kedua mata pelajaran tersebut cenderung baru membekali pengetahuan mengenai nilai-nilai melalui materi/substansi mata pelajaran. Kedua, kegiatan pembelajaran pada kedua mata pelajaran tersebut pada umumnya belum secara memadai mendorong terinternalisasinya nilai-nilai oleh masing-masing peserta didik sehingga peserta didik berperilaku dengan karakter yang tangguh. Ketiga, menggantungkan pembentukan watak peserta didik melalui kedua mata pelajaran itu saja tidak cukup. Pengembangan karakter peserta didik perlu melibatkan lebih banyak lagi mata pelajaran, bahkan semua mata pelajaran. Selain itu, kegiatan pembinaan kepeserta didikan dan pengelolaan sekolah dari hari ke hari perlu juga dirancang dan dilaksanakan untuk mendukung pendidikan karakter.

Merespons sejumlah kelemahan dalam pelaksanaan pendidikan akhlak dan budi pekerti yang telah diupayakan inovasi pendidikan karakter. Inovasi tersebut adalah:
  1. Pendidikan karakter dilakukan secara terintegrasi ke dalam semua mata pelajaran. Integrasi yang dimaksud meliputi pemuatan nilai-nilai ke dalam substansi pada semua mata pelajaran dan pelaksanaan kegiatan belajar mengajar yang memfasilitasi dipraktikkannya nilai-nilai dalam setiap aktivitas pembelajaran di dalam dan di luar kelas untuk semua mata pelajaran.
  2. Pendidikan karakter juga diintegrasikan ke dalam pelaksanaan kegiatan pembinaan kepeserta didik. Selain itu, pendidikan karakter dilaksanakan melalui kegiatan pengelolaan semua urusan di sekolah yang melibatkan semua warga sekolah.

Sumber : Kemendiknas

Profesionalitas Guru Terhadap Mutu Pendidikan

Posted by Wida Awanda on 19.00 with No comments
Pendidikan sangat penting dalam kehidupan dan tidak dapat dipisahkan dari kehidupan seseorang dan sifatnya mutlak. Maju mundurnya bangsa Indonesia ini di tentukan oleh adanya pendidikan yang ada. Memngingat begitu pentingnya pendidikan dalam kehidupan, maka pendidikan harus dilaksanakan sebaik-baiknya agar diperoleh hasil yang diharapkan. Untuk melaksanakan pendidikan harus dimulai dengan pengadaan tenaga pendidikan sampai pada usaha peningkatan mutu tenaga kependidikan. Kemampuan guru sebagai tenaga kependidikan, baik secara personal, sosial, maupun profesional, harus benar-benar dipikirkan karena pada dasarnya guru sebagai tenaga kependidikan merupakan tenaga lapangan yang langsung melaksanakan kependidikan dan sebagai ujung tombak keberhasilan pendidikan. Untuk itu, ilmu pendidikan memegang peranan yang sangat penting dan merupakan ilmu yang mempersiapkan tenaga kependidikan yang profesional, sebab kemampuan profesional bagi guru dalam melaksanakan proses belajar-mengajar merupakan syarat utama.
Pada umumnya orang memberi arti yang sempit teradap pengertian profesional. Profesional sering diartikan sebagai suatu keterampilan teknis yang dimilki seseorang. Misalnya seorang guru dikatakan guru profesional bila guru tersebut memiliki kualitas megajar yang tinggi. Padahal pengertian profesional tidak sesempit itu, namun pengertiannya harus dapat dipandang dari tiga dimensi, yaitu expert; seorang guru harus ahli dalam bidang pengetahuan yang diajarkan dan ahli dalam tugas mendidik, responsibility; seorang guru harus mampu memberi pertanggung jawaban dan bersedia untuk diminta pertanggung jawabannya baik tanggung jawab intelektual maupun moral, dan sense of belongin/colleague; menciptakan rasa kesejawatan sehingga ada rasa aman dan perlindungan jabatan[1].
Dengan demikian, jika pendidikan yang ada saat ini menerapkan syarat-syarat dan kewajiban bagi tenaga kependidikan maka akan tercipta keprofesionalitasan seorang guru. Namun, pada kenyataanya di Indonesia sendiri masih banyak tersebar seorang guru atau tenaga kependidikan yang belum masuk kriteria sebagai guru yang profesional. Wajar saja jika pendidikan yang ada di Indonesia masih dalam keadaan kritis, karena pemerintah masih belum memberi perhatian khusus kepada seorang guru. Adanya program pemerintah tentang sertifikasi yang di peruntukan bagi para guru pegawai negeri sipil (baca: guru PNS) yang mereka mendapatkan gaji khusus setiap tiga bulan sekali malah akan menjadikan hilangnya keprofesionalitasan seorang guru terhadap mutu pendidikan yang ada, karena mereka (baca: guru PNS) akan berlomba-lomba untuk mengejar sertifikasi guru, sehingga mereka lupa akan tugas dan tanggungjawab sebagai seorang guru. Mereka (baca: guru) menganggap istilah guru semata-mata hanya dianggap sebagai profesi pekerjaan, padahal kita tahu bahwa esensi seorang guru bukan hanya sebagai pekerjaan saja, melainkan seseorang yang bertanggung jawab atas pendidikan generasi anak bangsa yang nantinya akan meneruskan perjuangan para founding father kita, sepeti Budi Utomo, Ki Hajar Dewantara, dan masih banyak lagi yang lainya. Jika para guru benar-benar melaksanakan tugas dan tanggungjawabnya sebagai seorang guru dan tidak mementingkan kepentingan pribadi, maka pendidikan yang ada sekarang ini akan menjadi lebih baik karena semua guru akan bersikap profesional dengan apa yang sudah menjadi tugasnya sebagai seorang tenaga kependidikan. []

[1] Moch. Uzer Usman, 2000.